jelajah gambar dalam pikiran

jelajah gambar dalam pikiran
panorama dalam pemikiran

Rabu, 07 November 2012

Bilang Ga Ya?

"ayo kita pergi ke Toko Dunia Muslim, mungkin disana ada" kata seorang ibu pada anaknya di dalam sebuah butik, dan aku terang saja mendengar percakapan itu, aku berdiri tepat di dekat mereka. dan aku tahu persis toko Dunia Muslim hari itu tidak buka, karena aku sendiri baru saja dari sana. Toko itu sedang di renovasi. secara spontan aku ingin memberitahukan mereka, tapi ya aku orang asing, berbicara pada orang asing itu bukan kebiasaanku. Aku diam saja dibalik pintu kaca butik melihat ibu dan anak itu berlalu menaiki kereta bersemangat menuju Dunia Muslim.

Aku kembali berfikir, apakah ini benar ? atau salah? bagaimana jika aku sebagai ibu itu? bilapun aku memberi tahu ibu itu, tetap akan sama saja kecewanya karena sama-sama tidak dapat pergi ke Dunia Muslim. tapi apa dia percaya, atau apa dia cukup nyaman berbicara dengan orang asing.

Hari ini aku singgah di sebuah gerai pembelian pulsa, disamping itu berdiri seorang gadis yang bisa disebut jilbaber dilihat dari jilbabnya yang panjang. "ini kartu voucher internet ga ada yang lebih murah lagi? 40 ribu 1 giga?" tanyanya pada penjual. "iya itu yang paling murah" , "ini tinggal pakai? kalau ga bisa saya balik lagi kesini", gadis itu menimang-nimang kartu perdana itu. sedangkan aku yang disampingnya tahu bahwa di toko seberang jalan, kartu perdana yang sama persis 2 giga hanya 50 ribu. Aku baru saja membelinya 2 hari lalu.

Lagi -lagi mau tak mau aku terpaksa berpikir lagi, berbicara dengan orang asing, benarkah? apa tidakanku benar bila mengatakannya? atau malah menggannggu? atau aku malah membuat rezeki abang penjual pulsa ini musnah?* ya tentu saja. apa abang penjual pulsa ini tidak tersinggung? *ya pasti. tapi-tapi ini akan merugikan gadis itu, bila ia memebeli kartu itu. tapi-tapi-tapi ia juga tidak pernah tahu ia merugi. jadi?

Aku teringat cerita pengalaman adikku di negeri orang di Turki. saat itu ia hendak berangkat ke mesjid untuk menunaikan Shalat Jumat. Seperti di Indonesia, ia dengan naifnya pergi ke Mesjid dengan sarung dan sendal jepit. Seorang anak gadis turki, berseragam sekolah setingkat SMA melihatnya. Sontak gadis itu bergeser mengambil langkah berdiri di depannya. "Kenapa memakai sendal, pakailah sepatu". Setelah tahu adikku mengerti, ia tersenyum dan pergi berlalu.

satu lagi yang juga pengalaman adikku itu saat ia membeli sebuah buku resep masakan Turki sebagai hadiah ulang tahun untukku di Indonesia. Ia menimang-nimang mana buku yang paling baik, yang kertasnya paling berwarna atau yang covernya paling bagus. ia sendiri tidak mempertimbangkan kontennya, karena ia sendiri tidak tahu banyak mngenai masakan Turki. Saat menimang-nimang itu seorang Ibu-ibu Turki menyadarkan timbang menimbangnya yang tidak jelas itu. "Buku yang ini bagus, resep yang ditulis didalamnya apabila dibuat dapat menjadi makanan yang tepat". Benar kata ibu itu, bukankah tidak semua buku resep bila dibuat dapat sederhananya menjadi makanan yang persis sama, ada buku yang isinya tidak menyertakan selah-selah memasak yang berakibat gagalnya masakan. Ibu itu, ibu-ibu orang asing yang berbicara dengan seorang pelajar Indonesia berkulit hitam.

balik ke kejadian di gerai Pulsa tadi, akhirnya aku memutuskan memberitahu gadis jilbaber itu. alih-alih kulihat abang penjual pulsa itu lebih fokus pada pelanggan yang lain, apalagi terlebih suara bising pinggir jalan disore hari luar biasa riuh, kuharap abang itu tidak mendengar apa yang akan kukatakan."itu kartu satu giga 40 ribu? diseberang jalan sana, 2 giga hanya 50 ribu", kataku lembut, aku tak berharap anak itu percaya. " yang benar, sebelah mana? mumun cell itu ya? kapan kakak beli" , aku mengangguk lembut "beberapa hari lalu". anak itu menjadi semringah senang, padahal aku merasa bersalah rezeki abang pulsa ini baru saja musnah gara-garaku. anak itu bergerak cepat, "bang ga Jadi" , aku dengan perasaan aneh segera menaruh uang pulsa yang telah diisi dan bergegas ingin pergi,tak berani melihat abang penjual pulsa itu. sedangkan anak itu "serius kan? terimakasih banyaaak" berlalu dengan perasaan bahagia. dan aku buru-buru tancap gas meninggalkan perasaan bersalahku akan abang penjual pulsa.

orang-orang di dunia Barat menerima doktrin masa modern 'Don't Talk to strangers' ya benar mungkin niatnya untuk menghindari hal-hal buruk terjadi, seperti penipuan, hipnotis, dsb. Tapi bagaimana bila kau tahu ini bukan hal negatif, sifatnya hanya ingin memberitahu? jawaban dikepalaku menjadi tidak mudah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar